Senin, 17 Maret 2014

komunikasi bisnis antar budaya

PENTINGNYA KESADARAN ANTARBUDAYA DAN KOMPETENSI KOMUNIKASI ANTARBUDAYA DALAM DUNIA KERJA GLOBAL.


PENDAHULUAN

          Globalisasi telah memberikan efek pada budaya dan perilaku manusia dalam berbagai setting dan konteks. Interaksi manusia dari berbagai belahan dunia saat ini sangatlah mudah dengan kemajuan teknologi informasi yang sangat pesat. Setiap detik selama 24 jam setiap hari manusia berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia lain dari berbagai belahan dunia lain melalui media atau pertemuan langsung. Pertemuan antarbudaya semakin mudah dan sering serta semakin banyaknya orang-orang yang bepergian ke negara lain, apakah itu untuk urusan bisnis, pekerjaan, belajar atau liburan.
Pada era global dan era perdagangan bebas ini semakin banyak perusahaan-perusahaan multinasional di berbagai negara, juga perusahaan-perusahaan lokal yang mengembangkan bisnisnya ke negara-negara lain. Konsekuensi adalah semakin banyaknya keberadaan pekerja dan professional asing di suatu negara atau orang bekerja di negara lain. Jumlah tenaga kerja asing di berbagai perusahaan lokal maupun multinasional semakin hari semakin meningkat. Menurut Susumu Yoshida Managing Director Sumitomo Chemical Asia Pte.Ltd (2002),  strategi perusahaan untuk merambah bisnis global bukanlah lagi sebuah pilihan tapi sebuah keharusan untuk dapat terus berlangsung hidup. Perusahaan terus-menerus membutuhkan kapital, sumber daya manusia, jasa, barang-barang dan informasi untuk dapat tetap tumbuh.
Di Indonesia sendiri, pada tahun 2012 jumlah tenaga kerja asing sebanyak 57.329 orang. Jumlah terbanyak berasal dari RRC sebanyak 12.835 orang kemudian disusul oleh Jepang, Korea Selatan, India dan Malaysia. Tenaga kerja asing yang berasal dari luar Asia, sebagian besar berasal dari Australia, USA, Inggris dan Perancis yang masing-masing sekitar 2000 orang. Jumlah ini menurun drastis dibandingkan jumlah pekerja asing pada tahun 2011 yang mencapai 118.000 orang (www.depnakertrans.go.id). Sedangkan warga negara Indonesia yang berada di luar negeri mencapai 4 juta orang, apakah sebagai pekerja profesional, pelajar, TKI, TKW atau permanent residence.  WNI ini paling banyak berada di Malaysia, Singapura, Arab Saudi, Korea, AS, Inggris, Jerman dan Australia (www.tribunnews.com).
Tenaga kerja asing yang berada di Indonesia sebagian besar berasal dari perusahaan-perusahaan PMA (Penanaman Modal Asing).  Ada juga yang bekerja pada perusahaan-perusahaan asing yang mengakuisi atau merger atau berafiliasi dengan perusahaan Indonesia. Keberadaan tenaga kerja asing di perusahaan asing atau perusahaan lokal bukan tanpa persoalan. Konflik antara buruh dengan pengusaha atau manajer asing beberapa kali terjadi. Demo buruh sangat kerap terjadi yang sampai mengakibatkan pull out nya beberapa perusahaan asing dari Indonesia karena merasa tidak aman.
Kecemburuan sosial, kesenjangan gaji dan fasilitas adalah salah satu akar masalah, walaupun awal munculnya konflik terbuka seringkali karena masalah komunikasi antarbudaya. Salah satu contohnya adalah kasus pada PT. Drydock World Graha di Batam. Berdasarkan berita di Kompas.com, konflik bermula dari umpatan seorang supervisor asal India yang mengatakan pekerja Indonesia “stupid”. Umpatan itu spontan menyulut emosi pekerja Indonesia lainnya. Perkelahian pun tak terhindarkan antara pekerja asing berdarah India dengan pekerja Indonesia —yang menurut mereka sudah sering mendapat hinaan serupa. “Kalau topi ini bisa ngomong, dia akan ngomong kalau tiap hari kita ini dimaki-maki bodoh dan sebutan lainnya,” ujar seorang karyawan Indonesia. Dampak dari umpatan ini adalah demonstrasi buruh dan aksi pembakaran terhadap berbagai fasilitas perusahaan. Puluhan tenaga kerja asing terpaksa dievakuasi dari Batam (www.kompas.com).
Konflik antarbudaya tidak bisa dianggap sepele. Bisa jadi berkata dan bertindak kasar merupakan hal biasa di suatu budaya tapi merupakan hal yang luar biasa dan penghinaan di budaya yang lain. Kegagalan komunikasi sehari-hari, kesalahpahaman karena faktor perbedaan bahasa, perbedaan latar belakang budaya, sikap perilaku eksklusif karena merasa ekspatriat dan sikap-sikap lain yang tidak sesuai dengan latar budaya lokal dapat menimbulkan prasangka serta sangat mungkin diakhiri dengan konflik terbuka yang berakibat fatal.
Dalam ranah global sendiri, dunia mengarah menjadi multicultural society, dimana setiap orang bisa saja berasal dari beberapa ras yang berbeda dan hidup pada beberapa konteks budaya (Samovar, Porter, & McDaniel, 2010). Contohnya saja Presiden Barack Obama, ia lahir di Hawaii dimana penduduk asli Hawaii bukanlah orang kulit putih, ayahnya berasal dari Kenya, ibunya dari ras kulit putih, pernah tinggal di Indonesia bersama ayah tiri orang Indonesia, kemudian menetap di Hawaii bersama neneknya yang kulit putih.
Untuk konteks bisnis, banyak perubahan terjadi terutama sejak pesatnya perkembangan teknologi informasi. Transaksi bisnis dapat dilakukan dalam hitungan menit, pertukaran informasi dari berbagai belahan dunia terjadi setiap detik. Profesional dan pengusaha bisa kapan saja melakukan kontak dan melakukan perjalanan bisnis ke berbagai negara. Sayangnya, kemampuan dan ketrampilan berkomunikasi antarbudaya untuk kelancaran hubungan dan bisnis tidak semua disadari oleh para pelaku bisnis. Ditambah lagi sangat minimnya pelatihan komunikasi antarbudaya untuk mengatasi hambatan-hambatan antarbudaya. Banyak kegagalan transaksi bisnis terjadi hanya karena kegagalan dalam berkomunikasi antarbudaya.
Pelatihan untuk meningkatkan kompetensi berkomunikasi antarbudaya dan untuk meningkat kesadaran antarbudaya menjadi suatu keharusan bagi perusahaan-perusahaan global maupun lokal. Kurangnya kesadaran antarbudaya dan kurang cakapnya dalam berkomunikasi antarbudaya seringkali menciptakan kesalahpahaman. Kesalahpahaman ini dapat menimbulkan rasa tersinggung dan ketidakpercayaan dari kedua belah pihak. Bahkan kesalahpahaman dapat terjadi hanya karena perbedaan dalam gaya berkomunikasi (Yoshida, 2002).
Melalui tulisan ini, penulis bertujuan menunjukkan pentingnya kesadaran antarbudaya dan kemampuan berkomunikasi antarbudaya dengan efektif di era global ini.


METODOLOGI
            Metode penulisan karya tulis ini adalah studi pustaka. Data dan informasi diperoleh dari data sekunder yang berasal dari buku-buku dan referensi yang berkaitan dengan tema karya tulis ini. Sumber utama untuk tulisan ini adalah berbagai hasil penelitian yang telah dilakukan yang tertuang dalam berbagai jurnal dan berbagai textbook Komunikasi Antarbudaya.

PEMBAHASAN

Memahami Keanekaragaman Budaya dan Kesadaran Antarbudaya
            Perbedaan dan keanekaragaman adalah sesuatu yang alamiah. Setiap orang, setiap bangsa memiliki keunikannya sendiri-sendiri. Walaupun dunia terasa seperti semakin menyempit dan semakin pudar batas-batas negara karena kemajuan teknologi, perbedaan dan keanekaragaman akan tetap ada. Banyak yang berpendapat globalisasi dapat menyeragamkan budaya-budaya yang ada dan tidak perlu lagi terlalu mengkhawatirkan perbedaan-perbedaan budaya yang ada, tapi penulis yakin perbedaan dan keanekaragaman budaya pasti akan tetap ada. Perbedaan dan keanekaragaman justru menambah semaraknya kehidupan serta merupakan kekayaan bangsa.
Siapapun yang berada dalam konteks bisnis internasional, bekerja pada perusahaan asing atau menjadi ekspatriat di suatu negara, ketika berinteraksi dengan orang asing pasti pernah mengalami tatapan mata yang menyiratkan ketidakpahaman, senyuman yang dipaksakan, gumaman komentar dalam bahasa yang tidak jelas akibat tidak dipahaminya kata-kata yang diucapkan. Sebaliknya terkadang tanpa disadari, kita sendiri pernah membuat orang lain bingung dengan bahasa tubuh, ekspresi wajah dan aksen berbicara kita.
Orang-orang dengan budaya yang berbeda memproses informasi dengan cara yang berbeda, menilai perlakuan secara berbeda dan mengukur konsep waktu dan ruang dalam pola yang berbeda pula. Ketidakpekaan atas perbedaan budaya bisa menjelma menjadi masalah bisnis yang serius (Mitchel, 2001).
Satu contoh dikisahkan oleh Mitchel (2001) tentang masalah bisnis yang serius yang dialami oleh Disneyland akibat ketidakpekaan budaya. Setelah sukses membuka Disneyland di Jepang, Disneyland akan membuat taman bermain ini di Perancis. Oleh karena merasa sudah membuat keberhasilan di Jepang – yang memiliki budaya yang sangat berbeda – Disneyland merasa tidak perlu mengubah sistem yang sudah dianggap berhasil untuk disesuaikan dengan orang Eropa. Masalah terjadi sejak awal pembelian lahan 1.950 hektar. Tanah yang dibeli adalah lahan pertanian utama dengan harga di bawah harga pasar. Para keluarga petani Perancis yang telah berabad-abad mengelola tanah tersebut marah dan menentang. Surat kabar Perancis mencela pengusaha Amerika dengan tulisan-tulisan yang penuh kemarahan dan hinaan bahwa Disneyland telah menyepelekan ikatan petani Perancis dengan tanah leluhurnya. Selanjutnya Disneyland semakin menyinggung perasaaan masyarakat Perancis dengan menggunakan pengacara untuk bernegosiasi kontrak-kontrak yang akan dilakukan. Di Perancis, pengacara adalah alat negosiasi terakhir, penggunaan pengacara menunjukkan ketidakpercayaan dan penolakan terhadap cara Perancis,  seharusnya cukup para eksekutif Disneyland saja yang bernegosiasi. Masalah semakin rumit karena ketidakpedulian Disneyland akan kultur Eropa dan norma kerja Perancis. Disneyland menuntut karyawan-karyawannya berpenampilan gaya Amerika, akibatnya staf dan serikat buruh memberontak dan menuntut model pakaian sehari-hari Perancis. Moral kerja merosot. Selain hal-hal di atas, banyak sekali detil-detil budaya yang diabaikan Disneyland di Perancis. Biaya akibat ketidakpekaan perusahaan terhadap budaya menghabiskan uang dan goodwill yang sangat besar.
Ketidakpekaan dan pengabaian detil-detil budaya juga banyak dilakukan oleh para pelaku bisnis dan manajer global. Mereka cenderung menyamaratakan cara dan gaya untuk diterapkan pada budaya yang berbeda. Komentar-komentar seperti “Cara ini berhasil di negara saya, jadi dengan cara ini akan berhasil dimanapun,” “Saya tahu bagaimana menjual / membuat / mengelola bisnis ini dimanapun,” “Produk saya adalah yang terbaik, saya tidak perlu khawatir dengan perbedaan budaya” seringkali terdengar (Beamer dan Varner, 2008).
Sikap menganggap bahwa budaya kita adalah budaya yang terbaik dan budaya-budaya lain seharusnya mengikuti tata cara budaya kita dan dinilai berdasarkan standar budaya kita adalah sikap yang harus dihindari ketika kita berinteraksi dengan orang dari budaya yang berbeda. Sikap ini adalah bentuk dari ethnocentrism negatif (Samovar, Porter dan McDaniel, 2010). Bila kita cenderung bersikap ethnocentrism negatif, akan menghambat keberhasilan dalam berkomunikasi antarbudaya.
Setiap budaya memiliki keunikan dan karakteristik tersendiri. Lewis (2005) menyatakan “berbeda bahasa, berbeda dunia”. Lewis (2005) menunjukkan beberapa perbedaan unik dari beberapa bangsa, seperti :
“Bagi orang Jerman dan Finlandia, kebenaran adalah kebenaran. Di Jepang dan Inggris, kebenaran yang baik apabila kebenaran itu tidak mengganggu keselarasan. Di Cina tidak ada kebenaran mutlak. Di Italia, kebenaran bisa dirundingkan”.

“Orang Jepang tidak menyukai jabat tangan, tapi lebih menyukai membungkuk ketika menghormat orang lain dan tidak membersihkan hidung di muka umum. Orang Brazil terbiasa untuk tidak antre ketika naik bis, lebih menyukai sepatu warna coklat daripada hitam, dan datang terlambat dua jam pada pesta koktail. Orang Yunani menatap bola mata anda, menganggukkan kepalanya berarti ‘tidak’, dan ada kalanya membanting piring di restoran”.

Yoshida (2002) juga menyampaikan kisah tentang pertemuan bisnis antara delegasi Amerika Serikat dengan pejabat tinggi Jepang. Ia menyebutkan problem yang dihadapinya saat itu adalah “perception gap”. Diceritakannya, setelah delegasi Amerika selesai bertemu dengan pejabat tinggi Jepang, salah satu anggota delegasi bercerita pada seorang teman baiknya yang berkebangsaan Jepang tentang impresinya terhadap pertemuan itu.

“Delegasi Jepang menerima kami dengan sangat baik dan terlihat sangat menyimak apa yang kami katakan. Tapi setelah pertemuan itu, semua anggota delegasi kami menyatakan tidak dapat memahami dengan jelas hal-hal apa saja yang delegasi Jepang ingin lakukan. Kami juga merasakan suasana yang ‘dingin’ selama pertemuan dan akhirnya kami merasakan bahwa orang Jepang lebih sombong daripada sebelumnya”.

Keesokan paginya, surat kabar Tokyo mengutip pernyataan salah satu pejabat tinggi Jepang yang ikut serta dalam pertemuan, “kami sangat menghargai pertemuan yang telah dilakukan, kami berusaha sebagai pendengar yang baik daripada memaksakan pandangan kami pada mereka dan kami merasa delegasi Amerika menghargainya”.
Apa yang salah? Berbeda dengan persepsi delegasi Amerika, orang Jepang menganggap suasana ‘dingin’ yang dirasakan adalah sikap yang tepat dan baik. Dengan mereka diam dan menyimak artinya mereka serius merenungkan setiap permasalahan pada subyek yang sedang dibahas. Lagipula di Jepang terdapat filosofi ‘mereka yang banyak tahu tidak berbicara, dan yang tidak tahu apa-apa banyak berbicara’.
Dari dua peristiwa di atas, menunjukkan sangat pentingnya memahami dan mengenali perbedaan-perbedaan dari setiap budaya. Dengan memahami bahwa keanekaragaman budaya itu sangat luas dan mengagumkan, kita akan lebih terbuka menerima perbedaan yang ada dan membuka diri untuk mempelajari perbedaan-perbedaan yang ada. Konsep dan pemahaman tentang waktu, ruang, kehidupan setelah mati, alam dan realitas yang dimiliki masyarakat yang berlainan latar belakang budaya, sedikit banyak akan berdampak pada proses dan keberhasilan kita berkomunikasi dan berbisnis internasional.

Mengenali Budaya Lain

Budaya didefinisikan sebagai kumpulan pengetahuan, pengalaman, keyakinan/kepercayaan, nilai-nilai, sikap, makna, hierarki, agama, konsepsi waktu, peran, jarak, hubungan, konsep-konsep umum, obyek material dan milik dari sekelompok orang yang diturunkan dari generasi ke generasi melalui individu dan kelompok (Samovar, Porter dan McDaniel, 2009)
Selanjutnya, Samovar, Porter dan McDaniel (2009) menyatakan, agar budaya dapat diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya, individu dan kelompok budaya harus mengkomunikasikan setiap aspek dari budaya. Oleh karena itu budaya dan komunikasi tidak dapat dipisahkan dan menjalin suatu ikatan yang kuat. Budaya menentukan bagaimana cara kita berbicara, apa yang dibicarakan, kepada siapa pesan disampaikan, dalam kondisi yang bagaimana pesan disampaikan dan diterima, bagaimana pesan diinterpretasikan. Budaya sebagai dasar untuk berkomunikasi dan ketika budaya beraneka ragam maka cara berkomunikasi pun beraneka ragam.
Pakar budaya mengklasifikasikan  budaya-budaya dari berbagai bangsa/negara. Pakar-pakar tersebut antara lain Gudykunts-Kim,  Edward T. Hall-Mildred R. Hall dan Geert Hofstede. Klasifikasi yang dibuat oleh Edward T. Hall tertuang dalam 3 buku klasiknya yang masih relevan dan selalu dikutip oleh pakar-pakar komunikasi antarbudaya lainnya sampai saat ini. Buku-buku tersebut berjudul  Dance of Life:The Other Dimensions of Time (1984), Hidden Differences (1990) dan Understanding Cultural Differences (1990). Ketiga buku ini menjelaskan dan mengklasifikasi budaya-budaya di dunia berdasarkan konsep waktu dan konteks budaya. Gudykunts-Kim membuat klasifikasi individualistic dan collectivistic culture, sedangkan Geert Hofstede  mengidentifikasi dimensi-dimensi nilai dan mengukur derajat dimensi nilai tersebut pada lebih dari 50 negara di seluruh dunia. Hasil penelitiannya ini dituangkan dalam bukuCultures and Organizations (Hofstede dan Hofstede, 2005).
Hall dan Hall (1990) mengkategorikan berbagai kebudayaan mulai dari low-context cultures(LCC) sampai pada high-context culture (HCC). Pada high-context culture sebagian besar informasi dituangkan dalam konteks fisik atau diinternalisasikan di dalam orang-orang yang berinteraksi. Sangat sedikit informasi berupa pesan-pesan verbal dan lebih ahli dalam membaca lingkungan dan perilaku non-verbal. Orang-orang high-context culture mengharapkan orang lain dapat memahami komunikasi non-verbalnya. Jepang, Cina, Indonesia dan negara-negara Asia lainnya merupakan high-context culture.
“Perception gap” yang terjadi pada kisah Susumu Yoshida di halaman sebelumnya, dikarenakan delegasi Jepang berasal dari HCC yang mengharapkan delegasi Amerika dapat memahami pesan non-verbal ‘dingin’ dan ‘bungkam’ nya sebagai bentuk penghargaan terhadap pendapat dan pemikiran delegasi Amerika. Sedangkan delegasi Amerika berasal dari LCC.
Pada low-context culture sebagian besar informasi berupa pesan-pesan verbal. Pesan verbal sangat penting karena masyarakat LCC cenderung tidak belajar bagaimana memperoleh informasi dari lingkungan. Ketidaksetujuan dan perbedaan pendapat harus diungkapkan secara verbal karena masyarakat LCC sulit untuk memahami pesan non-verbal. Amerika Serikat, Australia dan negara-negara Eropa Barat lainnya adalah low-context culture.
Selain mengkategorikan berbagai budaya menjadi LCC dan HCC, Hall dan Hall (1984, 1990) mengkategorikan waktu menjadi monochronic time (M-time) dan polychronic time (P-time). Hall mencirikan orang-orang monochronic time dan polychromic time, akan tetapi mereka meminta pencirian ini jangan diaplikasikan ke semua budaya, hanya untuk menolong menemukan pola.
Ciri orang M-time antara lain: berasal dari LCC, melakukan satu hal pada satu waktu dan sangat berkonsentrasi pada satu pekerjaan, menggunakan waktu berdasarkan komitmen (jadwal,dateline), membutuhkan informasi yang lengkap dan mendetil, terikat pada pekerjaan, ketat mengikuti rencana, sangat menghargai privacy.
Sedangkan orang-orang P-time bercirikan: berasal dari HCC, melakukan berbagai hal pada satu waktu sehingga hal dilakukan seringkali terinterupsi, terikat pada orang dan hubungan antar manusia, mudah dan seringkali berubah rencana, memiliki hubungan erat dengan keluarga dan teman.
Gudykunts dan Kim (2003) menyatakan bahwa negara-negara di Asia, Amerika Selatan termasuk ke dalam budaya kolektif, dimana kebersamaan dan ikatan keluarga dan kelompok sangat penting. Sedangkan negara-negara di Eropa Barat dan Amerika Utara, masyarakatnya termasuk ke dalam budaya indivialistik.
Hofstede dan Hofstede (2005) melakukan survey pada karyawan IBM di semua perwakilannya di 74 negara untuk mengidentifikasi perbedaan sistem nilai di setiap negara (national values). Nilai-nilai yang diukur meliputi 4 dimensi, yaitu:
  1. Power Distance, berhubungan dengan social inequality termasuk hubungan dengan otoritas. Derajat yang dinilai dari kecil sampai besar. Semakin tinggi skor sebuah negara, semakin besar jarak kekuasaan di masyarakatnya.
  2. Collectivism versus individualism, berhubungan dengan konsep diri, hubungan yang terjalin antar individu dan individu dengan kelompok/masyarakat. Semakin tinggi skor sebuah negara, semakin individualistik masyarakat negara tersebut.
  3. Femininity versus masculinity, implikasi sosial dan emosional terlahir sebagai laki-laki atau perempuan. Semakin tinggi skor sebuah negara, semakin maskulin masyarakat negara tersebut.
  4. Uncertainty avoidance, cara-cara menghadapi ketidakpastian dan ambiguitas yang terwujud pada ekspresi emosi dan kontrol terhadap agresi. Derajat yang dinilai dari lemah sampai kuat. Semakin tinggi skor sebuah negara, semakin tinggi tingkat kecemasan dan semakin tidak bisa menerima ketidakpastian.
Di bawah ini adalah tabel keempat dimensi nilai hasil penelitian Hofstede. Dari keseluruhan 74 negara yang diteliti Hofstede, penulis hanya memilih negara-negara yang warga negaranya paling banyak bekerja di Indonesia dan negara-negara dimana banyak warga negara Indonesia bekerja dan tinggal di sana.
Pada negara yang menunjukkan skor power distance yang tinggi seperti Malaysia, jarak status dan kekuasaan atasan dan bawahan tinggi. Kekuasaan tersentralisasi dan dipegang oleh sedikit orang dengan struktur piramida hierarki yang tinggi. Bawahan harus selalu patuh pada perintah atasan dan atasan sangat dihormati. Atasan memperoleh berbagai fasilitas dan keistimewaan serta terdapat perbedaan gaji yang tinggi antara atasan bawahan. Sebaliknya negara yang menunjukkan skor power distance yang rendah seperti Jerman, hubungan atasan bawahan cenderung sederajat, sistem hierarki hanya untuk perbedaan peran/tugas. Organisasi cenderung desentralisasi dengan struktur piramida hierarki yang pendek. Atasan yang dihormati adalah atasan yang demokratis.
Masyarakat pada negara yang menunjukkan skor tinggi pada dimensi individualisticmenunjukkan karakteristik masyarakat low-context culture, berorientasi dan berpikir “saya” bukan “kami”, independen, menjunjung tinggi privacy dan kepemilikan individu, media sebagai sumber informasi utama, berkepribadian lebih extrovert dan didukung untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran. Sebaliknya masyarakat di negara collectivistic sangat berorientasi “kami”, sangat tergantung pada keluarga besar dan kelompoknya, harmoni diutamakan dan menghindari konfrontasi langsung, berbagi dengan keluarga atas sumber daya yang dimiliki,high-context culture, sangat menjaga nama baik keluarga dan kelompok, jaringan sosial adalah sumber informasi utama dan terpercaya, berkepribadian cenderung introvert.

komunikasi bisnis negosiasi

Komunikasi Bisnis Negosiasi.

Abstrak
Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan dengan tujuan tercapai kesepahaman bersama, sedang-kan negosiasi adalah suatu kegiatan yang terencana apa yang harus dicapai, bagaimana, dan dengan pengorbanan apa ?
Kata Kunci: Komunikasi, negosiasi
Pendahuluan
Dalam lingkup dunia bisnis yang semakin mendunia tuntutan untuk sukses semakin konpleks dengan adanya bermacam-macam kultur yang harus bekerjasama. Beda kebiasaan saja sudah menjadi perten-tangan, misalnya budaya barat berbi-cara sambil kakinya diletakkan diatas meja sudah biasa, di Indonesia hal ini sangat tabu dan tidak sopan. Orang India bila mengatakan tidak mengang-guk dan menggelengkan bila ya. Untuk itu peranan komunikasi dalam meme-nangkan peperangan terlihat sangat penting. Hal yang sama berlaku dalam dunia bisnis, kesalahan dalam mela-kukan negosiasi sering membawa akibat fatal.
Masa depan perusahaan, yang sudah dibangun bertahun-tahun bisa hancur dan beratakan, hanya gagal dalam melakukan negosiasi dengan pihak lain.
 
Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisa dokumen dan wawancara.
Metode kualitatif ini digunakan kerana beberapa pertimbangan. Per-tama, menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan ganda; kedua, meto-de ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara pengkaji dan responden; ketiga, metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman penga-ruh bersama terhadap pola-pola nilai yang dihadapi.
Mengikuti Neuman, penyeli-dikan kualitatif melibatkan pendoku-mentasian peristiswa yang sesung-guhnya, merekam apa yang dinyatakan oleh responden dengan kata-kata, nada suara maupun isyarat, mengamati perilaku yang spesifik, mempelajari dokumen-dokumen tertulis atau mengamati visual images. Sebagai con-toh para pengkaji kualitatif mengambil secara cermat foto-foto atau video tape dari orang-orang atau peristiwa-peristiwa. (Ball and Smith, 1992; Harper, 1994).
Bogdan dan Taylor (1975), mendefinisikan metodologi kualitatif sebagai prosudure penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan pelaku yang dapat diamati. Lebih lanjut dia katakan, pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara holistic (utuh). Jadi, dalam hal ini tidak boleh mengi-solasikan individu atau organisasi ke dalam variable atau hipotesis, tetapi perlu memandangnya sebagai bagian dari suatu keutuhan.
Kirk dan Miler (1986) bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergan-tung pada pengamatan pada manusia dalam kawasannya sendiri dan berhu-bungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya.
Komunikasi Bahasa Simbol, Lambang-Lambang, Fakta dan Opini
Komunikasi diartikan sebagai kegiatan penyampaiaan pesan dari komunikator kepada komunikan dengan tujuan tertentu. Pesan dapat disampaikan dalam bentuk: Lisan, tulisan, audio visual, ataupun gabu-ngan ketiga-tiganya.
Dalam kegiatan komunikasi yang sangat perlu diperhatikan pola komunikasi sangat menentukan pili-han kata yang dipergunakan. Bagi organisasi/lembaga DPR yang hubu-ngan cukup formal, maka bahasa yang dipilih lugas dan eksplisit.
Komunikasi lain adalah komu-nikasi yang berlangsung dalam bahasa simbol dan kata-katanya memiliki makna ganda. Di situ hanya orang-orang tertentu saja bisa mengerti atas pilihan kata-kata atau idiom yang digu-nakan.
Dalam berkomunikasi sering terganggu oleh percampuradukan antara fakta dan opini. Opini adalah hasil pengintergrasian pendapat berdsarkan diskusi yang dilakukan di dalam masyarakat demokratis (Emory Bogardus).
Seseorang mengatakan Ibu Kota Negara R.I adalah Banten, ini bukan opini, tetapi jelas jawaban yang salah dan ini adalah fakta.
Komunikasi Teknik Negosiasi
Sebagai mana kita sering mendengar negosiasi diartikan sebagai proses yang melibatkan upaya sese-orang untuk merubah atau tidak merubah sikap dan perilaku orang lain. Sedangkan pengertian yang lebih terinci menunjukkan bahwa negosiasi merupakan proses untuk mencapai kesepakatan yang menyangkut kepen-tingan timabal balik dari pihak-pihak dengan sikap, sudut pandang, dan kepentingan-kepentingan yang ber-beda satu sama lain. Negosiasi, baik yang dilakukan oleh seorang pribadi dengan pribadi lainnya, maupun negosiasi antara kelompok dengan kelompok (atau antar pemerintah), senantiasa melibatkan pihak-pihak yang memiliki latar belakang berbeda dalam hal wawasan, cara berpikir, corak perasaan, sikap dan pola perilaku, serta kepentingan dan nilai-nilai yang dianut. Pada hakikatnya negosiasi perlu dilihat dari konteks antar budaya dari pihak yang mela-kukan negosiasi, dalam artian perlu komunikasi lisan, kesedian untuk memahami latar belakng, pola pemi-kiran, dan karakteristik masing-masing, serta kemudian berusaha untuk saling menyesuaikan diri.
Agar dalam berkomunikasi lebih efektif dan mengena sasaran dalam negosiasi bisnis harus dilak-sanakan dengan melalui beberapa tahap yakni:
1.   Fact-finding, mencari/mengumpulkan fakta-fakta.data yang berhubungan dengan kegiatan bisnis lawan sebe-lum melakukan negosiasi.
2.   Planning / rencana, sebelum berne-gosiasi/berbicara susunlah dalam garis besar pesan yang hendak disampaikan. Berdasarkan kerangka topik yang hendak dibicarakan rincilah hasil yang diharapkan akan teraih. Berdasarkan pengenalan anda terhadap lawan tersebut, per-kirakan/bayangkan kemung-kinan reaksi penerima pesan/lawan berbicara terhadap apa yang anda katakan.
3.     Penyampaian, lakukan negosiasi/ sampaikan pesan dalam bahasa lawan/sipenerima. Usahakan gunakan istilah khas yang bisa dipakai oleh lawan negosiasi kita. Pilihlah kata-kata yang mencer-minkan citra yang spesifik dan nyata. Hindari timbulnya makna ganda terhadap kata yang disam-paikan.
4.      Umpan balik, negosiator harus menguasai bahasa tubuh pihak lawan. Dengarkan baik-baik reaksi lawan bicara. Amati isyarat prilaku mereka seperti: angkat bahu, geleng–geleng kepala, mencibir, mengaggguk setuju. Umpan balik dapat untuk mengetahui samakah makna yang disampaikan dengan yang ditangkap lawan negosiasi bisnis kita.
5.      Evaluasi, perlu untuk menilai apakah tujuan berkomunikasi/ negosiasi sudah tercapai, apakah perlu diadakan lagi, atau perlu menggunakan cara-cara untuk mencapai hasil yang lebih baik.
Meskipun pesan yang disam-paikan dapat diterima dengan baik, bukan berarti hasil yang diharapkan akan diperoleh sesuai dengan yang direncanakan semula. Yang sering terjadi justeru perbedaan pandangan terhadap cara penyelesaian masalah antara pemberi dan penerima pesan. Sehingga diperlukan pembicaraan lebih lanjut, yang memerlukan perjua-ngan tersendiri bagi pengirim pesan dalam menyampaikan dan memenang-kan pendapatnya.
Kalau terjadi adu pendapat antara negosiator dengan pihak lawan maka timbul dorongan untuk menang. Keinginan untuk menang disatu sisi dengan mengabaikan kekalahan dipi-hak lainnya, biasanya sulit tercapai. Untuk itu digunakan strategi menang-menang. Artinya ada sebagian keinginan kita yang dikorbankan dengan mengharapkan pihak lawan juga akan mengorbankan hal yang sama, sehing-ga kesepakatan diantara kedua belah pihak dapat tercapai.
Disini penulis memberi ilustrasi komunikasi dalam bisnis dengan mengambil kasus negosiasi dengan orang Jepang. Kontak permulaan merupakan fase yang sangat penting guna membangun hubungan personal yang berkelanjutan. Kontak permulaan lewat korespodensi, faksimile atau telepon dianggap sebagai cara yang kurang efektif atau tepat. Kebanyakan perusahaan Jepang menanggapi dengan lamban, bahkan seringkali tanpa respon. Hal ini terjadai pertama kerana hambatan bahasa dan komu-nikasi terutama untuk perusahaan-perusahaan kecil dan menengah yang tidak terbiasa membuat kontak lang-sung dengan perusahaan asing. Kedua, surat menyurat tidak memberi infor-masi yang cukup. Tanpa informasi yang cukup, kontak dagang sulit dilakukan dan negosiasi mengalami kegagalan. Hal kecil yang tidak bisa disepelekan dalam kontak permulaan adalah kebiasaan menukar kartu nama. Orang Jepang sangat sulit menghapal ejaan asing, kerana itu kartu nama merupakan arsip penting yang selalu disimpan dengan cermat. Tanpa kartu nama orang Jepang akan sulit meng-hubungi calon rekannya. Orang Jepang dalam negosiasi tidak langsung pada persoalan. Selalu diawali dengan soal-soal yang tidak relevansinya dengan bisnis. Misalnya, membica-rakan lukisan yang tergantung di tembok, atau berbasa-basi tentang urusan keluarga. Orang Jepang selalu mengatakan ya segala hal yang dikemukakan lawan bicaranya. Tetapi jangan salah mengerti, ya bukan berarti iya saya setuju untuk transaksi, melainkan ya saya faham apa yang anda sampaikan.
Apa yang dilukiskan di atas dengan contoh kasus pada masyarakat Jepang bukan hanya termasuk bagian komunikasi lisan, tetapi sudah meru-pakan bagian utama dari teknik nego-siasi bisnis.
Kesimpulan
Negosiasi terjadi apabila dian-tara pihak-pihak yang secara terbuka bersedia mengemukakan gagasan-gagasannya. Tidak tertutup kemung-kinan bahwa masing-masing pihak yang melakukan negosiasi memiliki Hidden Agenda. Yang dimaksud dengan Hidden Agenda adalah gagasan tersembunyi atau niat terselubung yang diungkapkan secara eksplisit dalam negosiasi akan tetapi meru-pakan hal yang sesungguhnya ingin dicapai oleh pihak yang bersangkutan. Adanya hidden agenda pada umumnya dapat dikenali kerana sifatnya yang menghambat proses negosiasi, sehingga proses kearah kesepakatan sangat sulit atau bahkan hampir tidak pernah tercapai.
Bila diduga bahwa proses negosiasi terhambat kerana adanya hiden agenda dari salah satu maupun kedua belah pihak, lobying dapat dipilih untuk menggali hiden agenda yang ada sehingga proses negosiasi dapat dimulai kembali dari gagasan-gagasan yang lebih terbuka.
Daftar Pustaka
Oemi Abd Rachman,”Dasar-dasar Public Relations”, Alumni, Bandung, 1986.
Bernays, Edward L, “Public Relations”, University of Oklahoma Press, Norman, 1982.
Burhan Bugin, ”Metodologi Penelitian Kualitatif”, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001.
Bastaman, ”Makalah Untuk Kursus Pendidikan Diplomat”, Deplu R.I, Jakarta, 1987.
Lexy J. Moleong,”Metodologi Penelitian Kualitatif”, Remaja RosdaKarya, Bandung, 2001.

contoh surat lamaran

TUGAS 1. Contoh Surat Lmaran.

                                                                                                                                                                                                                                                                                                 Jakarta,18 Maret 2014
Kepada Yang Terhormat
Bank BNI (Bank Negara Indonesia)
Jl.Lampiri-Kalimalang,Jakarta Timur


Dengan Hormat
Berdasarkan informasi dari media cetak, koran abc mengenai lowongan pekerjaan di perusahaan tempat Bapak/Ibu pimpin. Melalui surat lamaran ini saya ingin mengajukan diri untuk melamar pekerjaan di perusahaan yang Bapak/Ibu pimpin guna mengisi posisi yang dibutuhkan saat ini. Saya yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama                                : Tria Wahyuni
Tempat/Tanggal Lahir        :  Jakarta, 19 Juni 1994
Jenis Kelamin                    : Permpuan
Pendidikan                        :  D3 Manajemen Keuangan
Alamat                              : Komplek DKI, blok G6 NO 22, Pondok Kelapa, Jakarta Timur
Nomer Telepon                 : 0218649324/089601679939

Untuk melengkapi beberapa data yang diperlukan sebagai bahan pertimbangan Bapak/Ibu pimpinan diwaktu yang akan datang , saya lampirkan juga kelengkapan data diri sebagai berikut :

Pas Photo.
Foto copy KTP Jakarta.
Daftar Riwayat Hidup.
Foto copy Ijazah Terakhir.
Foto copy SKHUN.
Foto copy Sertifikat Competensi.
Foto copy Surat Keterangan Refrensi.
Demikianlah Surat lamaran ini saya buat dengan sebenarnya dan atas perhatian serta kebijaksanaan Bapak/Ibu pimpinan saya mengucapkan terima kasih.


Hormat saya,

Tria Wahyun                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                       
   i


Minggu, 17 November 2013



Tugas Softskill ke 3




PENGUSAHA KUE KERING

Berawal dari jualan donat keliling di kampung-kampung dan sekolah-sekolah, Rosidah Widya Utami sang pemilik brand DKU berhasil mengelola bisnis kue kering 'kampung' bercita rasa kelas atas.
Rosidah selalu kebanjiran orderan. Tak tanggung-tanggung, di Lebaran tahun ini omzet kue kering rumahan ini bisa menembus angka di atas Rp 1 miliar.

"Kalau Puasa dan Lebaran penjualan naik drastis. Omzet bisa sampai lebih dari Rp 1 miliar, tahun lalu omzetnya Rp 500 juta. Puasa dan Lebaran membawa berkah ya, kerja 2 bulan hasilnya bisa untuk dimakan selama 2 tahun," kata Rosidah kepada detikFinance, di Jakarta, Minggu (11/8/2013).

Menurut Rosidah, kue kering produksinya kini laris manis diminati masyarakat luas. Tidak hanya dari wilayah Jakarta dan sekitarnya, kue keringnya yang diproduksi di Jombang, Jawa Timur ini sudah merambah hingga Kalimantan dan Sumatera.
Saking banyaknya pesanan, ia harus meminta bantuan pekerja untuk bisa memenuhi permintaan konsumen. Saat ini, usaha rumahan milik Rosida ini ikut dibantu sedikitnya 40 pegawai. Ternyata tenaga bantuan itu tidak cukup. Tanpa bermaksud menolak, Rosidah terpaksa ‘melepas’ orderan hingga 30% dari total permintaan yang nilainya mencapai Rp 300 juta-Rp 400 juta.
Menurut Rosidah, kunci utama mempertahankan pelanggan adalah dengan memberikan layanan dan kualitas terbaik.










PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Banyak wanita yang memiliki hobi membuat kue, tapi jarang yang mengembangkannya menjadi bisnis. Dengan strategi usaha yang tepat dan terencana, keuntungan yang diperoleh dengan menjadi produsen kue lebih besar daripada menjadi agen kue. Target pasar produk kue sangat beragam, dari perorangan hingga pasar tradisional serta modern. Dan kegemaran masyarakat Indonesia untuk selalu menyediakan dan mengkonsumsi kue tidak akan pernah surut. Apalagi kue masih menjadi hal penting dalam setiap momen peristiwa. Dari hal tersebut jelaslah bahwa bisnis ini memberikan peluang yang menguntungkan apabila anda tertarik untuk menjalankannya.












PEMBAHASAN

Dalam persaingan bisniDalam persaingan bisnis pada saat ini terutama setelah Negara kita

            Untuk menjadikan bisnis kue kering menjadi bisnis yang berkelanjutan (bukan usaha musiman) ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

1. Buat kemasan kecil
Kue kering memang identik dengan kue hari raya. Saat hari raya, kue-kue ini biasanya dihadirkan dalam ukuran wadah yang cukup besar. Harus diakui ketika hari biasa, konsumsi kue kering memang lebih sedikit. Maka, ini bisa disiasati dengan menghadirkan kue-kue dalam wadah berukuran kecil.

Dengan kata lain, dalam satu toples kecil ini hanya diisi dengan 5-10 potong kue. Ketika dikonsumsi harian, pelanggan hanya ingin kue yang tak terlalu banyak isinya (dalam satu wadah) sehingga tak bosan ketika dinikmati sebagai teman minum teh atau kopi. Selain itu, ini juga dilakukan untuk menyiasati harga jual kue.

2. Inovasi produk
Pasti bosan kan makan kue yang itu-itu saja? Lakukan beberapa inovasi terhadap produk-produk yang dijual. Gunakan daya imajinasi dan kreativitas Anda untuk menghadirkan kue-kue yang unik dan belum ada di pasaran.

3. Inovasi bahan
Selain inovasi jenis produk, Anda juga harus berinovasi dengan bahan-bahan yang digunakan. Membuat kue kering tak harus pakai tepung terigu, tapi Anda juga bisa memakai tepung gandum, tepung ganyong, tepung ubi, dan lain-lainnya.
Indonesia memiliki banyak bahan yang bisa digunakan untuk membuat kue kering. Misalnya saja, tempe, tahu, oncom, tofu, atau rosella. 

4. Lihat tren pasar
Ketika memutuskan untuk menjual kue kering, lihat dulu tren pasarnya. Kebanyakan masyarakat Indonesia lebih menyukai kue-kue yang bercitarasa asin. 

5. Inovasi nama
Nama produk juga turut ambil bagian sebagai tingkat penentu produk tersebut dilirik atau tidak. Beri nama-nama yang menarik dan unik. Ini trik dagang yang bisa membuat orang yang melihatnya jadi sangat tertarik, mengalami krisis ekonomi yang berkepanjangan , semua perusahaan terus berusaha untuk tetap eksis di bidang usahanya masing-masing baik produk maupun jasa . perusahaan yang ingin berkembang atau paling tidak bertahan hidup harus memberikan produk berupa barang maupun jasa yang berkualitas dengan harga yang murah.

Peluang Bisnis Kue Kering Jelang Lebaran

Menjelang perayaan hari raya seperti lebaran, banyak peluang usaha musiman yang dapat dijalankan. Salah satunya yaitu peluang usaha kue kering. Biasanya kue kering menjadi makanan favorit dan banyak dicari para konsumen pada saat perayaan hari raya seperti pada saat lebaran. Tradisi makanan wajib yang biasa dihidangkan pada saat lebaran, selain ketupat opor biasanya juga dihidangkan berbagai macam kue kering seperti nastar, kastengel, putri salju, kue sagu, kue lidah kucing, serta aneka macam kue lainnya.

Kebiasaan masyarakat tersebut menyebabkan permintaan akan kue kering mampu meningkat tajam, bahkan hingga 200% dari permintaan pasar pada hari – hari biasa. Tingginya permintaan pasar akan kue kering biasanya dijadikan sebagai peluang untuk meraih untung dari usaha musiman tersebut.

Konsumen

Dengan tingginya permintaan konsumen akan kue kering menjelang lebaran, pelaku usaha kue kering tidak perlu susah – susah mencari konsumen. Karena hampir semua kalangan membutuhkan kue kering, dan tidak semua orang memiliki waktu ataupun kemampuan dalam membuat kue kering. Sehingga mereka lebih memilih membeli kue kering yang banyak ditemukan di pasaran, daripada harus membuatnya sendiri. Disamping konsumen rumahan, permintaan akan kue kering juga datang dari berbagai kantor yang menggunakan kue kering sebagai parsel untuk para karyawannya.

Produk

Walaupun permintaan pasar akan kue kering sangatlah tinggi, namun sebagai pelaku usaha Anda harus tetap memperhatikan kualitas produk kue kering yang Anda produksi. Jika ingin menggunakan bahan tambahan seperti bahan pengawet, bahan pewarna serta bahan pemanis pilihlah bahan yang khusus untuk makanan. Sedangkan untuk pemilihan bahan baku, gunakan bahan – bahan yang berkualitas,dan jangan lupa perhatikan masa kadaluarsa bahan baku yang akan digunakan. Sehingga kue kering yang kita hasilkan aman untuk dikonsumsi dan tidak membahayakan kesehatan para konsumen.

kue dalam toples 250x187 Peluang Bisnis Kue Kering Jelang LebaranSelain kualitas produk, yang harus dipikirkan adalah kemasan produk yang menarik untuk menguatkan minat pada konsumen pada produk yang kita produksi. Karena biasanya hal pertama yang dilihat konsumen adalah tampilan luar atau kemasan produknya. Untuk mempercantik penampilan kue kering yang Anda pasarkan, dapat menggunakan berbagai macam bentuk toples kedap udara atau bisa juga menggunakan toples mika yang ditutup rapat dengan plester transparan. Untuk menambah nilai jual, Anda dapat menambahkan hiasan ataupun mencantumkan merek kue kering yang Anda produksi pada kemasan.

Pemasaran

Tawarkan produk kue kering yang Anda produksi pada rekan kantor ataupun tetangga sekitar rumah Anda. Biasanya mereka akan lebih senang jika ditawari dengan cara memesan, sehingga mereka tidak perlu tenaga dan waktu untuk mencari kue kering di supermarket ataupun toko – toko roti.
Cara yang kedua yaitu tawarkan produk Anda ke toko – toko roti, supermarket, ataupun tempat jasa pembuatan parsel. Pada saat menjelang lebaran, banyak toko dan tempat pembuatan parsel yang menerima stock kue kering dalam jumlah yang cukup besar.
Cara yang ketiga yaitu menggunakan brosur dan katalog untuk menawarkan produk Anda melalui para agen, dengan memberikan imbalan tertentu untuk tiap penjualan.
Cara yang keempat yaitu dengan menggunakan bantuan internet dalam memasarkan produk Anda. Sehingga dapat menjangkau pemasaran yang lebih luas, hingga ke berbagai daerah.
Gunakan merek pada produk Anda, sehingga dapat mengenalkan dan menanamkan citra produk kue kering yang Anda produksi pada pasar.

Analisa Ekonomi

Misal sekali produksi, menghasilkan 200 toples dengan harga jual @ Rp 30.000,00

Modal awal
Oven Rp 3.000.000,00
Mixer Rp 2.000.000,00
10 Loyang @ Rp 30.000,00 Rp 300.000,00
5 Baskom @ 20.000,00 Rp 100.000,00
Kompor gas 1 tungku Rp 200.000,00
Bahan baku Rp 2.000.000,00
Kemasan Rp 1.000.000,00+
Total Rp.8.600.000,00

Pengeluaran
Bahan baku Rp 2.000.000,00
Kemasan Rp 1.000.000,00
Tenaga kerja 2 orang Rp 1.000.000,00
Listrik Rp 100.000,00
Gas elpiji Rp 14.000,00
Transport Rp 150.000,00
Promosi Rp 150.000,00+
Total Rp 4.414.000,00

Omset / produksi
( @ Rp 30.000,00 x 200 toples ) = Rp 6.000.000,00

Laba bersih / produksi
( Rp 6.000.000,00 – Rp 4.414.000,00 ) = Rp 1.586.000,00

 bagi kelangsungan hidup perusahaan harus selalu di puaskan dan dipenuhi harapannya , sebelum mereka berpindah kepada pesaing . untuk memenuhi kepuasaan konsumen pada industry jasa.










KESIMPULAN

Kue kering memang identik dengan kue hari raya. Kue masih menjadi hal penting dalam setiap momen peristiwa. Dari hal tersebut jelaslah bahwa bisnis ini memberikan peluang yang menguntungkan apabila anda tertarik untuk menjalankannya.